Jakarta

Dolar Amerika Serikat (AS) semakin kuat terhadap rupiah. Pada pembukaan perdagangan hari ini dolar AS tembus Rp16.169, bahkan sempat mencapai Rp 16.200an.

Menurut sejumlah ekonom, ada beberapa penyebab rupiah kalah terhadap dolar AS. Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad mengungkap pertama karena dampak dari keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Fed yang menunda untuk menurunkan suku bunga.

“Saya melihat secara global ya, dampak eksternal ternyata inflasi di AS belum menurun, tetapi semakin meningkat 3,48%, jadi situasi itu artinya The Fed tidak buru-buru untuk menurunkan suku bunganya, tadinya kuartal 2 atau 3 akan menurunkan suku bunga ternyata nggak. Kalau The Fed mau menurunkan ya bagus,” kata dia kepada detikcom, Selasa (16/4/2024).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penyebab kedua adalah menurunnya surplus neraca perdagangan Indonesia. Saat ini menurut Tauhid komposisi impor lebih tinggi, hal ini akan merugikan Indonesia karena nilai tukar rupiah terhadap dolar tengah melemah.

“Makanya pemerintah berusaha ada kebijakan untuk mengurangi impor, ada isu Permendag dan Kemenperin tujuan itu, gila ini (impor), pengaruh ini kepada bisnis juga,” jelasnya.

Penyebab ketiga, menurut Tauhid intervensi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) belum cukup mampu menahan tingginya pergerakan dolar AS. Dia menyarankan agar intervensi yang dilakukan BI lebih digencarkan lagi.

“BI dalam situasi begini, memang kan pilihannya dua, BI biasanya menaikkan suku bunga kalau inflasi tinggi, ini inflasi rendah. Tetapi kalau situasi begini BI tidak menaikkan, otomatis rupiah yang terdampak. Jadi takut tadi rate-nya, (berdampak pada) pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Senada, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal juga mengatakan penyebab dari rupiah yang saat ini keok dari dolar AS, pertama berkaitan dengan ditundanya The Fed menurunkan suku bunga.

“The Fed tadinya mau menurunkan suku bunganya karena melihat inflasi mengalami penurunan. Kondisi saat ini inflasi cenderung naik lagi, apa lagi juga ada konflik geopolitik di Timur Tengah. Jadi kemungkinan The Fed menunda penurunan suku bunga direspon pasar yang memburu dolar,” jelasnya.

Menurutnya, dampak dari menguatnya dolar AS terhadap rupiah yakni akan dirasakan oleh pengusaha segmen bisnis dari impor. Apa lagi industri yang bahan bakunya masih dari impor, akan membutuhkan dana cukup besar lagi untuk biaya produksinya.

“Dampak dari penguatan dolar ini tentu saja pertama barang-barang kita yang impor jauh lebih mahal, industri yang impor bahan baku atau barang modal biaya produksinya akan lebih mahal, industri yang bergantung pada pasokan dari luar negeri lebih mahal,” ujar dia.

(ada/kil)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *