Jakarta

Kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI) dimanfaatkan di berbagai bidang, termasuk pertambangan. Misalnya Botswana Diamonds (BOD), perusahaan tambang asal Botswana, Afrika yang memanfaatkan AI untuk mencari cadangan berlian.

Dalam pernyataan yang dirilis pada Selasa (9/4), AI bakal membantu perusahaan melakukan ‘pencarian komprehensif’ terhadap deposit berlian dan sejumlah mineral lainnya. Pasalnya ada basis data yang cukup besar dan membutuhkan waktu jika dianalisis oleh manusia.

“Basis data mineral kami di Botswana sangat besar, terlalu besar untuk dianalisis secara tepat waktu oleh manusia,” ujar Chairman BOD, John Teeling, dikutip dari Antara, Kamis (11/4).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

John menjelaskan bahwa perusahaan memiliki basis data mineral yang terdiri dari 95.000 kilometer persegi data, 375.000 kilometer data geofisika dari udara, 606 survei geofisika darat, 228.000 hasil sampel tanah, 32.000 log lubang pengeboran. Total data mencapai 380 gigabita dan 260.000 dokumen.

Ia pun menyampaikan, bahwa basis data yang sangat besar itu cocok buat dianalisa menggunakan model data besar berbasis komputer dan AI yang bisa menganalisis data berjumlah besar dalam waktu singkat.

“Kami memasukkan data itu dan menciptakan berbagai model dari pengetahuan yang kami miliki, baik secara teoritis maupun faktual,” jelasnya.

Oleh sebab itu, BOD bakal memanfaatkan teknologi prospektivitas mineral Planetary AI Ltd Xplore, yang dikembangkan melalui kolaborasi dengan International Geoscience Services Limited (IGSL). IGSL adalah sebuah sistem yang menggunakan perpaduan unik antara teknologi semantik dan pembelajaran mesin (machine learning).

Teknologi semantik sendiri merupakan cabang keilmuan AI yang berfokus pada pemahaman dan penyajian makna data, informasi, dan pengetahuan dalam format yang dapat dibaca oleh mesin.

John menuturkan, bahwa sistem itu bertindak seperti ahli geologi tapi dapat bekerja dengan lebih cepat dan efisien. Kumpulan data yang begitu besar diproses melalui AI menemukan kekurangan pada data dan bisa belajar untuk mengoreksinya.

“Penerapan ini diharapkan dapat menghasilkan wawasan baru yang akan mengusulkan target-target yang dapat dibor yang tidak terlihat sebelumnya,” pungkas John.

(ily/eds)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *