Jakarta

Lembaga pemeringkat Fitch telah menurunkan prospek peringkat surat utang atau kredit China dari stabil menjadi negatif. Penilaian ini diambil karena adanya peningkatan risiko keuangan pemerintah dan ketidakpastian ekonomi Negeri Tirai Bambu saat ini.

Melansir dari Reuters, Kamis (11/4/2024), penetapan tingkat kredit ini sejalan dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi China tahun ini akan melambat jadi 4,5%, dari sebelumnya 5,2% pada 2023 lalu. Sedangkan Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi negara itu masih di 4,6%.

Kemudian secara umum Fitch memperkirakan utang pemerintah China akan mengalami peningkatan jadi 61,3% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2024 ini, dari sebelumnya 56,1% pada 2023 lalu.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi ini disebabkan karena adanya penurunan ekonomi di sektor properti yang berkepanjangan. Bahkan perlambatan di sektor ini membuat pemerintah daerah jadi sangat terbebani hingga terlilit utang.

Anjloknya pendapatan mereka dari proses pengembangan lahan ini sedikit banyak akan membuat tingkat utang pemerintah daerah di banyak provinsi/kota menjadi tidak berkelanjutan alias berpotensi mandek.

Kemudian Fitch juga memperkirakan defisit pemerintah China tahun ini akan meningkat menjadi 7,1% dari PDB, dari sebelumnya 5,8% pada tahun 2023. Ini merupakan angka tertinggi sejak pandemi Covid-19 pada 2020 lalu yang berada di angka 8,6%.

“Ini tidak berarti China akan mengalami gagal bayar dalam waktu dekat, namun ada kemungkinan untuk melihat polarisasi kredit di beberapa sarana pembiayaan pemerintah daerah,” kata ekonom senior Natixis Asia-Pasifik, Gary Ng.

Meski begitu hingga saat ini Fitch hanya menurunkan prospek kredit China, sebab lembaga itu masih menetapkan peringkat utang negara itu di level A+. Ini merupakan kategori tertinggi ketiga yang bisa diberikan lembaga itu.

“Revisi prospek tersebut mencerminkan peningkatan risiko terhadap prospek keuangan pemerintah China karena negara tersebut tengah menghadapi ketidakpastian ekonomi di tengah perpindahan dari model pertumbuhan yang bergantung pada sektor properti ke apa yang pemerintah pandang sebagai model pertumbuhan yang lebih berkelanjutan,” jelas Fitch.

(eds/eds)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *