Jakarta

SCBD atau Sudirman Central Business Distrik merupakan sebuah kawasan bisnis yang terletak di Ibu Kota Jakarta Selatan, kawasan mewah nan megah yang terkenal dengan ciri khas gedung-gedung tinggi pencakar langitnya.

Siapa yang punya SCBD?

Dikutip dari laman resmi SCBD, Sabtu (9/4/2024), properti SCBD dikembangkan oleh PT Danayasa Arthatama Tbk (DA). Kawasan seluas 45 hektare ini mulai dirancang sejak tahun 1987 dan memulai pembangunan pada tahun 1992. DA merupakan anak induk dari perusahaan PT Jakarta International Hotels and Development Tbk (JIHD).

Gedung Artha Graha menjadi bangunan pertama yang dibangun di kawasan itu, hingga tahun 2002 perusahaan melakukan penawaran umum perdana dengan 100 juta saham di bursa efek sebagai langkah pengembangan usaha.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

SCBD dibangun di atas lahan 2,5 juta meter persegi dengan total luas lahan sebesar 45 hektar, superblok modern yang memiliki lingkungan bisnis kelas dunia. Hingga kini SCBD terkenal dengan kawasan bisnis paling modern di Indonesia.

JIHD sendiri merupakan perusahaan milik Tomy Winata, pengusaha konglomerat keturunan Tionghoa. Pria yang akrab dengan sapaan TW ini bukan berasal dari keluarga yang kaya raya. Ia merantau dari Kalimantan ke Jakarta dan memulai pekerjaan sebagai kuli bangunan.

Lahir pada 23 Juli 1958, TW mengawali bisnis kerja sama dengan perusahaan yang mempunyai kaitan dengan dunia militer, hal itu berjalan sangat lancar sampai saat ini. Belum diketahui secara pasti harta kekayaan yang dimilikinya sekarang namun diperkirakan mempunyai nilai total harta kekayaan sebesar US$ 900 juta atau setara Rp 12 triliun.

Dilansir dari situs resmi perusahaan, PT Jakarta International Hotels and Development Tbk atau JIHD didirikan pada November 1969 dan pada Maret 1974, Perusahaan ini mulai melakukan kegiatan komersial dengan pembukaan Hotel Borobudur Inter-Continental (saat ini, Hotel Borobudur Jakarta), hotel bintang 5 yang mencakup hunian apartemen seluas 70 ribu meter persegi dan taman tropis seluas 23 ribu meter persegi yang terletak di lokasi strategis di Jakarta.

Pada tahun 1984, JIHD mulai terdaftar di Bursa Efek Jakarta (saat ini Bursa Efek Indonesia) dan salah satu dari 24 perusahaan yang pertama terdaftar di Indonesia. Dengan pengalaman lebih dari 40 tahun, JIHD dan anak induknya yang beroperasi di empat segmen yaitu real estat, jasa konstruksi, jasa telekomunikasi, dan manajemen perhotelan.

Selama perjalanannya, JIHD secara konsisten menghadirkan produk-produk inovatif bagi industri properti dan perhotelan Indonesia. Seiring waktu berjalan, JIHD melalui anak perusahaannya, DA membawa nama JIHD menjadi salah satu pemain terdepan di peta persaingan industri properti dan perhotelan Indonesia, menjadikan SCBD sebagai kawasan distrik bisnis pertama di Indonesia.

Selain JIHD dan AD, Tomy merupakan pemilik perusahaan kelas kakap Artha Graha Group atau Arta Graha Network (AG). AG yang dimiliki TW hingga kini sudah membawahi JIHD, ADm dan 19 perusahaan lainnya yang bergerak di banyak sektor.

(fdl/fdl)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *