Jakarta

Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) optimistis tahun 2024 tumbuh positif. Hal ini dikarenakan LPEI memasuki transformasi menyeimbangkan kembali atau rebalancing dalam beberapa aspek.

Direktur Eksekutif LPEI Riyani Tirtoso mengatakan pihaknya tetap menargetkan kinerja pada tahun 2024 positif. Dia bilang apabila cadangan akibat kerugian penurunan nilai aset keuangan (CKPN) terdapat tambahan kredit baru, tentunya akan berdampak pada pertumbuhan kinerja.

“Kalau tahun ini kita targetnya tetap positif. CKPN kalau nambah kredit baru ya pasti nambah,” kata Riyani saat ditemui di kantor, Jakarta, Rabu (3/4/2024).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, pihaknya juga akan melakukan transformasi dengan implementasi manajemen baru, salah satunya dengan good bank dan bad bank. Dari segi good bank, pihaknya akan melakukan cara yang berbeda dengan modernisasi infrastruktur.

Dia menjelaskan dari sisi bad bank, pihaknya akan melakukan pemulihan dan koleksi. Selain itu, dia akan berkolaborasi dengan Jaksa Agung Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara disingkat (Jamdatun), Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), dan Itjen.
“Mudah-mudahan sih, tinggal bad bank udah on the right track, baik dari sisi collection, dibantu Jamdatun. Kita yakin deh bakalan dapat kredit baru,” jelasnya.

Sebelumnya, LPEI sempat mengalami rugi sebesar Rp 18,1 triliun pada tahun 2023. Angka ini naik dibandingkan rugi tahun sebelumnya sebesar Rp 3,1 triliun.

Tekan NPL

Pada 2024, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) nett di bawah 3%.

Pembenahan ini akan terus berlangsung sampai tahun 2026. Pada tahun 2026, target rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) nett di bawah 2%.

Sementara tahun 2024, target NPL nett di bawah 3%.

“Dua tahun mendatang NPL net di bawah 2%. Jadi LPEI benar-benar menjadi yang sehat dan menguntungkan,” terang Riyani

Sebelumnya, LPEI sempat mengalami rugi tahunan sebesar Rp 18,1 triliun pada tahun 2023. Angka ini naik dibandingkan rugi tahun sebelumnya sebesar Rp 3,1 triliun.

(hns/hns)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *