Jakarta

Harga minyak dunia naik pada Senin (1/4) di tengah ekspektasi berkurangnya jumlah pasokan minyak mentah. Pasokan minyak mentah diprediksi berkurang imbas pengurangan produksi OPEC+, serangan terhadap kilang minyak Rusia, dan dirilisnya data manufaktur China yang disebut akan mendorong peningkatan permintaan minyak mentah.

Harga minyak Brent berjangka naik 29 sen atau 0,3 menjadi US$ 87,29 per barel setelah naik 2,4% dari pekan lalu. Sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate US$ 83,48 per barel, naik 31 sen atau 0,4% setelah meningkat 3,2% pekan lalu.

Kedua acuan harga minyak tersebut berakhir di level lebih tinggi selama tiga bulan berturut-turut. Sejak Maret 2024, harga minyak bertahan di level US$ 85 karena OPEC dan sekutunya yang tergabung dalam OPEC+, berjanji memperpanjang pengurangan produksi minyak mentah hingga Juni 2024. Hal ini dapat memperketat pasokan minyak mentah selama musim panas di Belahan Bumi Utara.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wakil Perdana Menteri Rusia, Alexander Novak pada Jumat (29/3) mengatakan bahwa perusahaan minyak Rusia akan fokus mengurangi produksi dibanding ekspor pada kuartal II-2024. Hal ini agar pengurangan produksi merata dengan negara anggota OPEC+ lainnya.

Di sisi lain, sejumlah kilang Rusia dikabarkan lumpuh imbas serangan drone Ukraina dan 1 juta barel per hari (BOPD) kapasitas pemrosesan minyak mentah Rusia tidak berfungsi akibat serangan tersebut. Hal ini berdampak pada berkurangnya ekspor bahan bakar minyak berkadar sulfur tinggi yang diproses di kilang China dan India.

“Risiko geopolitik terhadap pasokan minyak mentah dan bahan baku yang banyak menambah kuatnya fundamental permintaan pada kuartal II-2024,” kata lembaga riset Energy Aspects dalam sebuah catatan dikutip dari Reuters, Senin (1/4/2024).

Di Eropa, permintaan minyak lebih kuat dari perkiraan. Jumlah kebutuhan minyak meningkat 100.000 BOPD per tahun menurut analisis Goldman Sachs. Ini meningkat dibanding perkiraan kontraksi 200.000 BOPD per hari pada 2024.

Faktor terakhir yang mendorong meroketnya harga minyak adalah aktivitas manufaktur China. Pada Maret 2024, aktivitas manufaktur disebut meningkat untuk pertama kalinya dalam enam bulan terakhir.

Menurut survei pabrik resmi yang dilaksanakan pada Minggu (3/1), akan ada peningkatan impor minyak di China bahkan ketika negara itu masih berjibaku dengan krisis di sektor properti yang menjadi hambatan bagi perekonomian. Meskipun demikian, volume perdagangan minyak mentah diperkirakan masih tipis pada Senin (1/4) karena sejumlah negara masih merayakan Paskah.

(ara/ara)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *