Jakarta

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengeluhkan masih kurangnya penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ke ritel modern di Indonesia.

Ketua Umum Aprindo Roy Nicholas Mandey mengatakan masih kurangnya penyaluran SPHP ini terutama untuk ritel modern di wilayah luar Pulau Jawa. Padahal menurutnya semua ritel modern telah mengajukan preorder (PO) ke Perum Bulog.

“Beras medium SPHP Bulog karena ini cadangan beras pemerintah yang dikucurkan untuk ritel modern dan pasar tradisional sesuai perintah presiden 250 ribu ton ini sekarang kita masih terus buka PO. Kenyataannya PO-PO yang kita buka bagi ritel-ritel lokal di luar Jawa ini service levelnya atau suplainya pasokannya di bawah 50%,” kata dia kepada detikcom, Kamis (28/3/2024).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Roy masih kurangnya beras SPHP karena bersamaan untuk bantuan pangan kepada masyarakat kurang mampu. Seperti diketahui beras SPHP berasal dari Cadangan Beras Pemerintah (CBP) juga digunakan untuk bantuan pangan beras kepada 22 juta keluarga penerima manfaat (KPM) sebesar 10 kg beras per bulan sampai Juni 2024.

Selain karena bantuan pangan, penyaluran SPHP ke Luar Jawa juga mengandalkan pasokan dari Jakarta. Sementara untuk dikirim ke luar Pulau Jawa menggunakan kapal laut sehingga memerlukan waktu yang lama.

“Beras SPHP ini sebenarnya itu tersedia karena itu CBP buat ritel modern dan pasar tradisional namun kan bersamaan beras diberikan ke rakyat melalui bantuan pangan kemudian juga diberikan kepada korban bencana banjir. SPHP ini juga pengantarannya kalau di Jawa bisa menggunakan truk, untuk di luar Jawa menggunakan kapal, jadi di luar Jawa masih sangat kurang pasokannya,” tuturnya.

Roy mengakui bahwa beras premium dari pengusaha swasta juga belum maksimal masuk ke ritel modern karena saat ini belum musim panen raya, hanya panen di beberapa daerah saja.

Dia memprediksi pasokan beras dari swasta akan mulai masuk di pekan depan, seiring dengan terjadinya panen raya di beberapa tempat. Namun, belum akan signifikan jumlahnya karena bukan musim panen raya.

“Jadi baru terasa nanti kemungkinan ke ritel minggu depan beras premium swasta dari panen di beberapa wilayah tadi. Karena ini belum panen raya. Kalau panen di beberapa wilayah ini kan perlu proses perlu di giling kemudian perlu dikemas, baru kemudian dikirim ke peritel,” pungkasnya.

(ada/ara)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *